Sesungguhnya, Apa Makna Pawai Ogoh - Ogoh itu??
| 14 March 2010

Setiap tahun, kita sebagai umat Hindu di Bali pasti merayakan yang namanya hari raya besar yaitu Nyepi. Dan sehari sebelum hari raya Nyepi tersebut, kita merayakan yang namanya hari pengerupukan atau Ngembak Geni. Yang biasanya diadakan moment yaitu mengarak ogoh - ogoh yang serempak dilaksanakan di seluruh Bali. Lalu, sebenarnya, apakah makna diadakannya ogoh - ogoh tersebut di hari pengerupukan atau Ngembak Geni tersebut ?
Salah satu keunikan dibali pada saat pengerupukan ( sehari sebelum puncak hari raya nyepi ) adalah, pawai ogoh ogoh. Pengerupukan adalah sebuah aktivitas untuk mengusir bhutakala (setan). Umumnya umat Hindu di Bali melakukan prosesi ini dengan cara memukul berbagai alat yg bisa mengeluarkan bunyi berkeliling rumah sambil membawa api. Biasanya sih dipakai kaleng-kaleng bekas. Suara gaduh yg ditimbulkan akan mengundang para bhutakala untuk berkumpul karena dipikirnya ada pesta. Saat itulah kita akan membakarnya dgn api yg sudah disiapkan dari daun kelapa yg kering. Sebenarnya prosesi ini memiki makna membakar semua nafsu jahat yg ada pada diri manusia sehingga pada saat Nyepi kita bisa lahir kembali menjadi manusia yg suci dan baik.
Ogoh-ogoh sendiri mulai diperkenalkan sekitar th 1993. Entah darimana inspirasinya, secara spontan anak-anak muda di Denpasar mulai membuat sebuah patung besar berbentuk binatang dari rangkaian bambu yg dihias, kemudian diarak keliling desa saat pengerupukan. Mendapat sambutan yg positif dari masyarakat luas, ogoh-ogoh pun berkembang dari tahun ketahun. Design ogoh-ogoh yg dulunya binatang, kini sudah berkembang menjadi bentuk raksasa, tokoh pewayangan, sampai tokoh kartun & pemain bola. Nilai artistiknya-pun tidak main-main, benar-benar bagus (seniman Bali gitu loh). Akhirnya mulai th 1998 ogoh-ogoh diperlombakan. Ironisnya, hadiah bagi pemenangnya cuman 1.5juta tidak sebanding dgn biaya membuat ogoh-ogh yg mencapai puluhan juta. Tapi semangat anak-anak muda Bali untuk berkarya tidak pernah pudar.
Pada mulanya ogoh-ogoh menginterpretasikan bentuk-bentuk abstrak dari bhuta kala atau energi kegelapan sehingga ogoh-ogoh Nyepi dibuat dalam bentuk makhluk menyeramkan sebagai refleksi sifat-sifat negatif agar tidak mengganggu alam semesta.
Namun, dalam perkembangannya ogoh-ogoh tidak lagi hanya sesosok boneka raksasa dengan wujud menyeramkan, namun kini kreativitas pemuda Bali telah mengembangkan ogoh-ogoh dengan wujud tokoh atau karakter yang tengah popular di masyarakat. Seperti ogoh-ogoh pemain sepakbola Ronaldinho hingga yang saat ini sedang tren di kalangan anak-anak karakter kartun Ipin dan Upin.




