Gangguan Pendengaran Akibat Bising
| 29 October 2009

Bersama : dr. IB. Surya Putra Manuaba, SpTHT
Gangguan pendengaran akibat bising merupakan penurunan ambang pendengaran yang diukur dengan alat audiometri dimana hasil menunjukkan nilai dibawah ambang pendengaran terutama pada frekuensi 4000 Hz atau lebih tinggi.
Kondisi penurunan ambang pendengaran ini terjadi akibat terpapar bising yang melebihi nilai decibel yag diperbolehkan untuk pendengaran, yang mengakibatkan penurunan pendengaran baik yang bersifat sementara atau permanen serta beberapa faktor lain.
Faktor - faktor yang dapat mempengaruhi penurunan pendengaran antara lain : intensitas bunyi, jenis bising, jangka waktu paparan bising, lama kerja total, kerentanan individu, umur pekerja, penyakit telinga yang ada, jarak dari sumber bising, posisi telinga terhadap bising, dll.
Yang dimaksud dengan ambang pendengaran ialah merupakan kemampuan pendengaran seseorang dalam merespon adanya suatu rangsang bunyi, yang diukur menggunakan Audiometri Nada Murni ( ANM ) dengan mengukur ambang pendengaran pada hantaran udara dan tulang pada frekuensi tertentu.
Untuk mengetahui nilai ambang pendengaran seseorang, maka bisa dilakukan pemeriksaan audiometri. Dan yang diukur dalam pemeriksaan audiometri adalah derajat ketulian dan jenis ketulian yang diderita seperti tuli hantaran, tuli saraf atau kombinasi keduanya.
Untuk mengetahui tingkat ambang kebisingan pada suatu tempat, kita dapat melakukan pengukuran dengan menggunakan Sound Level Meter.
Kemudian yang dapat dilakukan untuk pencegahan ialah : mengurangi paparan suara atau bunyi bising yang tidak perlu pada telinga kita, gunakan alat pelindung telinga seperti ears muff ( tutup telinga ) atau ears plug ( sumbat telinga ) bila kita memasuki area dengan suasana bising yang berlebihan.
Dan juga ada baiknya untuk menjaga kesehatan telinga, baik telinga luar, tengah ataupun dalam dengan jalan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter THT 6 bulan sekali.




