Gila! Gorillaz kembali bawa Album Baru dan Animasi gambar tangan

Cover Album Gorillaz. Source : www.gorillaz.com

Setelah cukup lama tak terdengar dengan proyek besar, Gorillaz akhirnya kembali. Bukan dengan satu single pemanasan, bukan juga sekadar teaser misterius. Mereka datang dengan album penuh sekaligus film pendek animasi yang digambar sepenuhnya dengan tangan. Di era ketika visual makin didominasi CGI dan AI, langkah ini terasa nekat sekaligus romantis.

Comeback ini seperti pengingat bahwa Gorillaz sejak awal memang bukan band biasa. Mereka adalah proyek lintas medium yang menggabungkan musik, karakter fiksi, dan dunia visual yang kuat. Kali ini, semua elemen itu dilebur dalam satu fase baru yang terasa lebih reflektif dan berani.

Siapa sebenarnya Gorillaz

Buat Gen Z yang mungkin baru mendengar namanya, Gorillaz bukan band konvensional. Mereka adalah virtual band yang dibentuk pada 1998 oleh musisi Inggris Damon Albarn dan ilustrator Jamie Hewlett.

Alih alih tampil sebagai personel nyata, Gorillaz hadir lewat empat karakter animasi yaitu 2D sebagai vokalis, Murdoc sebagai bassist, Noodle sebagai gitaris, dan Russel sebagai drummer. Identitas visual ini membuat mereka berbeda sejak awal kemunculan.

Di awal 2000an, mereka meledak lewat lagu Clint Eastwood dan Feel Good Inc yang kemudian menjadi anthem global. Album seperti Demon Days dan Plastic Beach memperkuat posisi mereka sebagai proyek musik eksperimental yang berani menggabungkan alternative rock, hip hop, elektronik, dub, hingga world music.

Gorillaz dikenal sebagai band yang gemar berkolaborasi lintas genre dan lintas generasi. Dari rapper, penyanyi soul, sampai musisi elektronik dunia, semuanya pernah masuk ke semesta mereka. Jadi kalau hari ini mereka comeback dengan konsep visual yang unik, itu sebenarnya sudah jadi DNA mereka sejak awal.

The Mountain, perjalanan yang lebih dalam

Album terbaru mereka bertajuk The Mountain (पर्वत). Ini adalah rilisan studio kesembilan yang memperlihatkan sisi Gorillaz yang lebih kontemplatif. Secara musikal, spektrumnya tetap luas. Elektronik alternatif masih menjadi fondasi, tapi kali ini terasa lebih atmosferik dan meditatif.

Albarn membangun lanskap suara yang terasa global, dengan sentuhan instrumen tradisional dan nuansa lintas budaya. Album ini seperti perjalanan mendaki gunung. Tidak selalu cepat, tidak selalu mudah, tapi penuh lapisan makna.

Alih alih mengejar formula hit instan, Gorillaz justru memilih jalur yang lebih konseptual. Setiap lagu terdengar seperti bagian dari narasi yang lebih besar. Ada rasa pencarian, refleksi, bahkan spiritualitas yang terasa lebih kuat dibanding fase sebelumnya.

Film animasi 100 persen digambar tangan

Yang membuat proyek ini semakin mencuri perhatian adalah perilisan film pendek berjudul The Mountain, The Moon Cave and The Sad God. Film ini dirilis beriringan dengan albumnya dan menjadi bagian integral dari konsep keseluruhan.

Berbeda dari tren animasi modern yang serba digital, film ini dikerjakan dengan teknik hand drawing tradisional. Frame demi frame dibuat secara manual. Hasilnya bukan sekadar nostalgia visual, tetapi pengalaman yang terasa lebih organik dan emosional.

Gaya visualnya tetap mempertahankan identitas khas Gorillaz yang surreal, sedikit gelap, namun tetap puitis. Karakter 2D, Murdoc, Noodle, dan Russel kembali hadir dalam perjalanan simbolik menuju sebuah gunung misterius. Gunung itu menjadi metafora tentang ambisi, kehilangan, dan harapan.

Di tengah dunia yang makin cepat dan instan, keputusan untuk kembali ke teknik manual terasa seperti pernyataan sikap. Ini bukan sekadar estetika, tapi juga filosofi tentang proses dan sentuhan manusia dalam seni.

Lebih dari sekadar comeback

Comeback ini bukan hanya tentang merilis karya baru. Ini tentang memperkenalkan ulang identitas Gorillaz kepada generasi baru tanpa kehilangan fans lamanya.

Bagi pendengar lama, ini adalah momen nostalgia yang berevolusi. Bagi Gen Z, ini bisa jadi pintu masuk ke salah satu proyek musik paling kreatif dalam dua dekade terakhir. Gorillaz membuktikan bahwa mereka tidak pernah sekadar mengikuti tren. Mereka menciptakan ruangnya sendiri.

Album dan film ini terasa seperti satu paket pengalaman. Bukan hanya untuk didengar, tapi juga untuk dirasakan dan ditonton dengan penuh perhatian. Di tengah banjir konten yang serba cepat, Gorillaz justru mengajak kita melambat dan menikmati detail.

🎧 Dapatkan cerita di balik sejarah budaya musik global, rilisan terbaru, dan perspektif yang lebih dekat dengan pendengar hanya di 102,8 Menara FM Bali.
Jl. Gatot Subroto I No. 37, Denpasar, Bali
www.menara-fm.com
marketing@menara-fm.com
More Than Just a Music

Referensi

Happymag
https://happymag.tv/gorillaz-the-mountain-parvat-short-film-release/

Detik
https://www.detik.com/pop/music/d-8374162/gorillaz-comeback

DJ Mag
https://djmag.com/news/gorillaz-unveil-animated-short-film-based-new-album-mountain

Official Website Gorillaz
https://gorillaz.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *