
Sebelum orang saling bertukar playlist di Spotify atau mengirim lagu lewat Instagram Stories, ada satu tradisi yang pernah begitu spesial: membuat mixtape.
Bagi generasi 80-an hingga awal 2000-an, mixtape bukan sekadar kumpulan lagu. Di balik setiap kaset atau CD yang disusun sendiri, ada pesan yang sering kali tidak pernah diucapkan secara langsung. Musik menjadi bahasa untuk menyampaikan rasa suka, rindu, bahkan perpisahan.
Meski kini tergantikan oleh layanan streaming, budaya mixtape tetap dikenang sebagai salah satu cara paling personal dalam menikmati musik.
Ketika Menyusun Lagu Butuh Waktu dan Perasaan
Membuat mixtape di masa lalu bukan pekerjaan instan. Seseorang harus memilih lagu satu per satu, merekamnya ke kaset kosong atau membakar CD, lalu menyusun urutan lagu agar membentuk sebuah cerita.
Tak jarang, sampul kaset dibuat sendiri dengan tulisan tangan atau gambar sederhana. Ada yang menyelipkan surat, foto, hingga pesan kecil di dalam kotaknya.
Karena prosesnya membutuhkan waktu, mixtape menjadi hadiah yang terasa sangat personal. Bukan soal harga, tetapi tentang usaha dan perhatian yang diberikan kepada penerimanya.
Dari Mixtape ke Playlist Digital
Perkembangan teknologi mengubah cara orang menikmati musik. Kini, hanya dengan beberapa sentuhan di ponsel, siapa pun bisa membuat playlist dalam hitungan menit dan langsung membagikannya kepada teman.
Spotify, Apple Music, hingga YouTube Music membuat berbagi lagu menjadi jauh lebih mudah. Bahkan fitur seperti playlist kolaboratif memungkinkan beberapa orang menyusun daftar lagu bersama.
Meski formatnya berubah, tujuannya tetap sama. Musik masih menjadi cara untuk menyampaikan perasaan, mengenang momen tertentu, atau mempererat hubungan dengan orang lain.
Kenapa Mixtape Masih Dirindukan?
Di tengah kemudahan era digital, banyak orang justru merindukan pengalaman membuat mixtape.
Bukan karena kualitas suaranya lebih baik, melainkan karena setiap lagu dipilih dengan penuh pertimbangan. Tidak ada algoritma yang menentukan lagu berikutnya. Semua dipilih langsung oleh pembuatnya.
Itulah yang membuat mixtape terasa lebih intim. Setiap urutan lagu memiliki makna, seolah menjadi percakapan tanpa kata antara pemberi dan penerima.
Hingga sekarang, konsep tersebut masih hidup dalam bentuk playlist bertema, mulai dari playlist untuk menemani perjalanan, belajar, hingga playlist yang dibuat khusus untuk seseorang.
Musik Selalu Menemukan Caranya Menghubungkan Orang
Teknologi boleh berubah, tetapi fungsi musik tetap sama. Dari kaset, CD, MP3, hingga layanan streaming, musik selalu menjadi medium untuk berbagi cerita dan emosi.
Mungkin hari ini kita tidak lagi memberikan CD hasil bakaran kepada teman atau pasangan. Namun, saat seseorang mengirimkan playlist berisi lagu-lagu pilihan, sebenarnya ia sedang melanjutkan tradisi lama dengan cara yang baru.
Karena pada akhirnya, bukan medianya yang paling penting, melainkan cerita yang tersimpan di balik setiap lagu.
Dapatkan cerita menarik seputar budaya, gaya hidup, tren global, dan musik pilihan hanya di 102,8 Menara FM Bali.
Jl. Gatot Subroto I No. 37, Denpasar, Bali
www.menara-fm.com
marketing@menara-fm.com
+62 361 410101
More Than Just a Music
Referensi
- BBC News Indonesia. Playlist adalah mixtape baru, tapi apakah bisa sama romantisnya? https://www.bbc.com/indonesia/vert-cul-41772875
- VICE Indonesia. Mengenang Tradisi Bikin CD Mixtape, Hadiah Terbaik Buat Gebetan di Masa Lalu. https://www.vice.com/id/article/mengenang-tradisi-bikin-cd-mixtape-hadiah-terbaik-buat-gebetan-di-masa-lalu/
- RRI. Mixtape Miliki Makna Unik dan Sentimental. https://rri.co.id/jayapura/features/1233412/mixtape-miliki-makna-unik-dan-sentimental
- Fakta.id. Apa Itu Album Mixtape? https://www.fakta.id/apa-itu-album-mixtape/












