BTS Nyanyi Arirang, Comeback Ini Bikin Dunia Diam Sejenak

BTS // billboard.com

Comeback BTS kali ini terasa lebih dari sekadar kembali ke panggung. Ada sesuatu yang berubah. Bukan cuma dari skala konsernya yang besar, tapi dari cara mereka menyampaikan cerita.

BTS sendiri adalah grup asal Korea Selatan yang debut pada 2013 di bawah BigHit Entertainment. Beranggotakan tujuh personel, mereka dikenal bukan hanya lewat musik, tetapi juga lewat pesan yang mereka bawa tentang self-love, kesehatan mental, dan perjalanan hidup anak muda. Dalam satu dekade terakhir, BTS berkembang dari grup K-pop menjadi fenomena global dengan basis penggemar yang tersebar di seluruh dunia.

Di Seoul, konser comeback ini langsung dipenuhi ribuan penggemar. Sementara di luar venue, jutaan lainnya ikut menyaksikan secara online. Antusiasmenya besar, bahkan disebut memecahkan rekor dari sisi penonton dan perhatian global. Lebih jauh lagi, laporan media menyebut konser comeback ini bahkan berhasil menduduki peringkat teratas di platform streaming seperti Netflix di puluhan negara, menegaskan posisi BTS sebagai kekuatan global yang sulit ditandingi.

Tapi di tengah semua kemegahan itu, ada satu momen yang justru terasa paling “tenang”.

Arirang.

Menurut laporan CNN, BTS memasukkan lagu tradisional Korea ini ke dalam setlist comeback mereka. Arirang bukan lagu biasa. Ia sudah lama dikenal sebagai simbol identitas budaya Korea, lagu yang membawa cerita lintas generasi.

Saat lagu itu dibawakan, suasana konser berubah. Dari yang penuh sorak dan energi, perlahan jadi lebih hening. Bukan karena kehilangan hype, tapi karena semua orang seperti ikut tenggelam dalam momen.

Di titik itu, konser terasa lebih personal.

Secara keseluruhan, comeback ini memang padat. Dalam liputan CNBC Indonesia, BTS membawakan lebih dari 10 lagu yang merepresentasikan perjalanan mereka. Dari lagu-lagu lama yang sudah akrab, sampai materi yang lebih baru.

Setlist-nya seperti rangkuman perjalanan. Tentang bagaimana mereka tumbuh, berubah, dan sampai di titik sekarang.

Tapi justru Arirang yang jadi penyeimbang.

Di tengah produksi modern yang serba cepat dan visual yang intens, lagu ini hadir sebagai pengingat. Bahwa di balik semua pencapaian global, ada akar yang tetap mereka bawa.

Dan mungkin itu yang membuat momen ini terasa dekat.

Karena di balik nama besar BTS, tetap ada sisi manusia yang ingin pulang ke asalnya. Yang ingin mengingat dari mana mereka mulai.

Kalau dipikir, tanpa Arirang, konser ini tetap akan besar. Tetap meriah. Tetap jadi pembicaraan.

Tapi mungkin tidak akan meninggalkan rasa yang sama.

Karena pada akhirnya, yang diingat bukan hanya seberapa megah panggungnya, tapi momen ketika semuanya melambat, dan kita benar-benar merasa terhubung.

Dapatkan cerita di balik musik global, rilisan terbaru, dan perspektif yang lebih dekat dengan pendengar hanya di 102,8 Menara FM Bali
Jl. Gatot Subroto I No 37 Denpasar Bali
www.menara-fm.com
marketing@menara-fm.com
+62 361 410101
More Than Just a Music

Referensi

CNN BTS Arirang Comeback Concert in Korea 2026
https://edition.cnn.com/2026/03/21/style/bts-arirang-comeback-concert-korea-intl-hnk

Asatu News BTS Pecahkan Rekor Konser Comeback
https://www.asatunews.co.id/bts-pecahkan-rekor-konser-comeback

CNBC Indonesia Guncang Seoul Ini Daftar Lagu Comeback BTS
https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260322165613-33-720787/guncang-seoul-ini-daftar-12-lagu-comeback-bts

Suarakalbar Konser Comeback BTS Puncaki Netflix di 77 Negara
https://www.suarakalbar.co.id/2026/03/konser-comeback-bts-puncaki-netflix-di-77-negara-tegaskan-dominasi-global/

Filla: Band Tunanetra dari Bali yang Membakar Semangat Lewat “I’m A Fire”

Filla source IG @thisisfilla

Musik tidak selalu tentang apa yang terlihat. Bagi sebagian orang, justru dari keterbatasan visual, lahir cara baru dalam merasakan, memahami, dan menciptakan bunyi. Di tengah berkembangnya industri musik independen di Indonesia, muncul cerita yang tidak hanya soal karya, tetapi juga tentang ketahanan dan identitas.

Di Bali, semangat itu hadir melalui Filla, sebuah unit rock yang seluruh personelnya merupakan penyandang tunanetra. Kehadiran mereka bukan sekadar warna baru di skena musik lokal, tetapi juga representasi dari bagaimana musik bisa menjadi ruang yang inklusif.

Namun, perjalanan Filla tidak dimulai dari panggung besar atau rilisan digital. Ia berakar dari proses yang jauh lebih personal.

Filla tumbuh dari lingkungan komunitas dan pendidikan tunanetra di Bali, di mana musik menjadi bagian penting dalam keseharian. Bagi para personelnya, musik bukan hanya hiburan, tetapi juga alat untuk belajar, berkomunikasi, dan membangun kepercayaan diri.

Dalam prosesnya, mereka mengandalkan pendengaran sebagai kekuatan utama. Tanpa referensi visual, setiap nada, ritme, dan dinamika dimainkan dengan sensitivitas yang lebih dalam. Latihan demi latihan tidak hanya membentuk kemampuan teknis, tetapi juga membangun koneksi yang kuat antar anggota band.

Tantangan tentu ada. Akses terhadap alat, ruang latihan, hingga kesempatan tampil tidak selalu mudah didapat. Namun justru dari keterbatasan itu, karakter Filla terbentuk. Musik mereka terasa jujur, emosional, dan tidak dibuat-buat.

Seiring waktu, mereka mulai menciptakan karya sendiri dan memperkenalkan identitasnya sebagai band rock dengan perspektif yang berbeda.

Langkah besar Filla semakin terasa ketika mereka merilis single berjudul I’m A Fire.

Lagu ini menjadi semacam pernyataan diri. Dengan balutan musik rock yang kuat, “I’m A Fire” membawa pesan tentang keberanian untuk tetap menyala di tengah keterbatasan. Liriknya berbicara tentang kekuatan internal—tentang bagaimana seseorang tidak harus menunggu pengakuan untuk merasa bernilai.

Secara musikal, lagu ini menghadirkan energi yang intens. Vokal yang lantang berpadu dengan instrumen yang dinamis menciptakan atmosfer yang penuh dorongan. Tidak ada kesan ragu. Yang terasa justru keyakinan.

Menariknya, pesan dalam lagu ini tidak eksklusif untuk pengalaman penyandang disabilitas. Ia bersifat universal. Siapa pun yang pernah merasa diremehkan, dibatasi, atau diragukan, bisa menemukan dirinya di dalam lagu ini.

“I’m A Fire” bukan hanya lagu. Ia adalah simbol bahwa api itu selalu ada, bahkan ketika dunia tidak melihatnya.

Sejak perilisan “I’m A Fire”, langkah Filla mulai mendapat perhatian yang lebih luas. Mereka tidak hanya hadir sebagai band independen dari Bali, tetapi juga sebagai suara dari komunitas yang selama ini jarang mendapatkan sorotan di industri musik.

Kehadiran Filla membuka percakapan tentang aksesibilitas dan inklusivitas. Bahwa panggung musik seharusnya tidak dibatasi oleh kondisi fisik, melainkan terbuka bagi siapa saja yang memiliki sesuatu untuk disampaikan.

Di sisi lain, mereka juga menunjukkan bahwa kualitas karya tetap menjadi fondasi utama. Identitas sebagai band tunanetra bukanlah gimmick, melainkan bagian dari perjalanan yang membentuk karakter musik mereka.

Hari ini, Filla berdiri bukan hanya sebagai band, tetapi sebagai pengingat bahwa musik selalu menemukan jalannya. Bahwa dalam setiap keterbatasan, selalu ada kemungkinan untuk tumbuh, bersuara, dan didengar.

Pada akhirnya, cerita Filla bukan hanya tentang siapa mereka, tetapi tentang apa yang mereka wakili: keberanian untuk tetap menyala.

Dapatkan cerita di balik musik, rilisan terbaru, dan perspektif yang lebih dekat dengan pendengar hanya di 102,8 Menara FM Bali.


Jl. Gatot Subroto I No. 37, Denpasar, Bali
www.menara-fm.com
marketing@menara-fm.com
+62 361 410101
More Than Just a Music

Referensi

Tatkala. Berkenalan dengan Filla: Unit Rock Tunanetra Asal Bali dan Cerita di Balik Keidela. 2025.
https://tatkala.co/2025/01/19/berkenalan-dengan-filla-unit-rock-tunanetra-asal-bali-dan-cerita-di-balik-keidela/

Noisenesia. Filla Bali Rilis Single “I’m A Fire”.
https://noisenesia.web.id/filla-bali-rilis-single-im-a-fire/

Jangan Nekat ke Bali Saat Nyepi Kalau Belum Tahu Ini! Dari Ogoh-Ogoh yang Bising Sampai Pulau Mendadak Sunyi Total

Image by aronvisuals via Pixabay

Menjelang Hari Raya Nyepi, Bali menghadirkan pengalaman yang tidak bisa ditemukan di tempat lain di dunia.

Dalam satu rangkaian waktu, pulau ini berubah dari penuh suara, musik, dan energi—menjadi hening total tanpa aktivitas selama 24 jam.

Fenomena ini bahkan terlihat dari luar angkasa, ketika Bali mendadak gelap saat Nyepi berlangsung. Tahun 2026 menjadi semakin unik karena berdekatan dengan Idul Fitri, menghadirkan momen keberagaman budaya yang kuat di Indonesia.

Rangkaian Upacara Nyepi: Dari Sakral hingga Spektakuler

Melasti: Penyucian ke Laut

Rangkaian dimulai dengan Melasti, di mana umat Hindu membawa simbol suci ke laut untuk disucikan.

Pantai seperti Pantai Sanur dan Pantai Kuta menjadi pusat prosesi yang sarat makna spiritual.

Tawur Kesanga: Menyeimbangkan Energi Alam

Sehari sebelum Nyepi, digelar Tawur Kesanga.

Upacara ini bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan energi tak kasat mata agar tercipta harmoni.

Pengerupukan: Malam Paling Bising di Bali

Malam Pengerupukan menjadi puncak kemeriahan.

Ogoh-ogoh diarak keliling desa dengan iringan musik tradisional seperti baleganjur, menciptakan suasana penuh energi, ritme, dan “kekacauan” yang disengaja.

Namun di balik itu, ada makna mendalam: suara keras dipercaya sebagai cara untuk mengusir energi negatif sebelum memasuki tahun baru Saka.

Parade ogoh-ogoh menjadi salah satu momen paling dinanti oleh masyarakat maupun wisatawan saat menjelang Nyepi. Di Catur Muka Denpasar, suasana terasa paling meriah karena menjadi pusat keramaian di jantung kota. Sementara itu, kawasan Tegalalang dikenal dengan karakter ogoh-ogoh yang unik dan khas, mencerminkan kreativitas lokal yang kuat.

Di Ubud, parade menghadirkan nuansa seni dan filosofi yang lebih mendalam, cocok bagi yang ingin merasakan sisi budaya Bali yang lebih kental. Sedangkan di kawasan wisata seperti Nusa Dua, Kuta, dan Seminyak, parade ogoh-ogoh tetap meriah dengan akses yang lebih mudah dan suasana yang ramah bagi wisatawan.

Musik & Nyepi: Dari “Ledakan Bunyi” ke Keheningan Total

Hubungan Nyepi dengan musik sangat unik. Di satu sisi, musik menjadi bagian penting dalam rangkaian ritual, terutama saat pengarakan ogoh-ogoh yang diiringi gamelan baleganjur. Ritme yang cepat dan keras bukan sekadar hiburan, tetapi berfungsi membangun suasana kolektif sekaligus menjadi simbol pembersihan spiritual dari energi negatif.

Namun di sisi lain, saat Hari Raya Nyepi tiba, semuanya berhenti total. Tidak ada musik, tidak ada hiburan, dan tidak ada suara keramaian. Keheningan ini menjadi inti dari perayaan Nyepi, sebagai ruang refleksi dan penyucian diri.

Bagi banyak peneliti budaya, ini disebut sebagai “reset akustik”, di mana manusia kembali mendengar suara alam dan dirinya sendiri.

Nyepi: Saat Bali “Menghilang” dari Dunia

Saat Hari Raya Nyepi berlangsung, seluruh aktivitas di Bali dihentikan secara total. Masyarakat menjalankan Catur Brata Penyepian yang meliputi tidak menyalakan api atau cahaya (Amati Geni), tidak bekerja (Amati Karya), tidak bepergian (Amati Lelungan), serta tidak menikmati hiburan (Amati Lelanguan).

Dalam suasana tersebut, bandara ditutup, jalanan menjadi kosong, dan lampu-lampu dipadamkan. Kondisi ini menjadikan Bali sebagai salah satu tempat paling sunyi di dunia, bahkan hingga tampak gelap dari citra satelit.

Tradisi, Musik, dan Generasi Muda

Di balik ogoh-ogoh, terdapat kerja kolektif generasi muda Bali yang menggabungkan seni, musik, dan nilai budaya.

Musik tradisional seperti gamelan tidak hanya menjadi pengiring, tetapi juga identitas budaya yang terus dijaga di tengah modernisasi.

Dari kebisingan ritual hingga keheningan Nyepi, semuanya menjadi satu siklus yang menunjukkan keseimbangan hidup.

Temukan cerita menarik tentang budaya, musik global, dan perspektif unik lainnya hanya di:

102,8 Menara FM Bali
More Than Just a Music

Jl. Gatot Subroto I No. 37, Denpasar, Bali
www.menara-fm.com
marketing@menara-fm.com

Referensi

Trip.com – Panduan Nyepi Bali
https://id.trip.com/blog/nyepi-bali/

FMIPA UNESA – Nyepi 2026 & Fenomena Pulau Gelap
https://s3pendsains.fmipa.unesa.ac.id/post/nyepi-2026-berdekatan-dengan-idul-fitri-makna-tradisi-ogoh-ogoh-wisata-bali-saat-nyepi-dan-fenomena-pulau-gelap-dari-satelit-serta-kaitannya-sdgs

Kumparan – Hari Raya Nyepi 2026 Tahun Baru Saka
https://kumparan.com/kabar-harian/hari-raya-nyepi-2026-tahun-baru-saka-berapa-ini-penjelasannya-270ovl2Kh0o

Ribuan Warga Padati Kasanga Festival 2026 di Catur Muka Denpasar

Peserta Kesanga Festival 2026, ST. YOSA Br. Abiantimbul Denpasar. Photo by Visaka Photo © 2026

Menjelang Hari Raya Nyepi, pusat Kota Denpasar kembali dipenuhi energi budaya. Kawasan Patung Catur Muka Denpasar dan Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung menjadi titik utama berlangsungnya Kasanga Festival yang digelar pada 6 hingga 8 Maret 2026. 

Festival tahunan ini menghadirkan parade 16 ogoh ogoh terbaik dari sekaa teruna teruni se Kota Denpasar yang sebelumnya lolos seleksi tingkat kecamatan. Ribuan warga memadati area festival untuk menyaksikan parade yang menjadi salah satu agenda budaya paling ditunggu menjelang Nyepi. 

Suasana festival juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Beberapa turis bahkan terlihat merekam jalannya parade dan mengaku kagum dengan detail serta skala karya ogoh ogoh yang ditampilkan. 

Dalam parade Kasanga Festival, setiap banjar menampilkan konsep berbeda melalui ogoh ogoh yang mereka bawa. Pertunjukan biasanya diawali dengan tarian yang diiringi gamelan, kemudian dilanjutkan dengan pengarakan ogoh ogoh sepanjang rute parade. 

Format festival tahun ini juga dibuat seperti karnaval budaya. Peserta bergerak dari titik awal parade hingga garis akhir, sementara dewan juri menilai penampilan mereka di beberapa pos sepanjang jalur pawai. 

Peserta Kesanga Festival 2026, ST. Cantika Br. Sedana Mertha Denpasar. Photo by Visaka Photo © 2026

Selain parade ogoh ogoh, festival juga diisi berbagai kegiatan lain seperti lomba baleganjur, pameran ogoh ogoh mini, lomba sketsa, hingga stan kuliner tradisional yang melibatkan komunitas pemuda Denpasar. 

Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menilai Kasanga Festival menjadi salah satu ruang penting untuk memperkuat budaya Bali melalui kreativitas generasi muda.

Festival ini memberi kesempatan bagi sekaa teruna untuk terus berkarya sekaligus menjaga tradisi menjelang Hari Raya Nyepi agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman. 

Melalui festival ini, pemerintah kota juga memberikan dukungan kepada komunitas pemuda yang selama ini menjadi penggerak utama pembuatan ogoh ogoh di setiap banjar.

Atmosfer serupa juga terasa di Kabupaten Badung. Kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung menjadi lokasi parade finalis Badung Saka Festival yang menampilkan ogoh ogoh terbaik dari berbagai kecamatan.

Dalam ajang ini terdapat 21 ogoh ogoh finalis yang sebelumnya telah melalui proses seleksi tingkat kecamatan. Kreativitas para yowana mendapat apresiasi dari Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, yang menilai karya ogoh ogoh menjadi bukti kuatnya semangat budaya di kalangan generasi muda.

Pada malam parade utama, beberapa ogoh ogoh nominasi terbaik diarak di kawasan Puspem Badung dan menjadi tontonan masyarakat yang datang dari berbagai wilayah.

Festival ogoh ogoh seperti yang berlangsung di Denpasar dan Badung menunjukkan bagaimana tradisi Bali terus berkembang. Di balik patung raksasa yang diarak di jalanan, terdapat kerja kolektif satu banjar yang menggabungkan seni, cerita, dan identitas budaya.

Setiap tahun, generasi muda Bali tidak hanya menjaga tradisi ini tetap hidup, tetapi juga mendorongnya menjadi ruang kreativitas yang semakin dinamis menjelang Nyepi.

Dapatkan cerita di balik sejarah budaya musik global, rilisan terbaru, dan perspektif yang lebih dekat dengan pendengar hanya di 102,8 Menara FM Bali.

Jl. Gatot Subroto I No. 37, Denpasar, Bali
www.menara-fm.com
marketing@menara-fm.com

102,8 Menara FM Bali
More Than Just a Music

Referensi

Kasanga Festival 2026 Turis Asing Kagum Hingga Wujud Ogoh Ogoh Skor Tertinggi
https://www.detik.com/bali/budaya/d-8388097/kasanga-festival-2026-turis-asing-kagum-hingga-wujud-ogoh-ogoh-skor-tertinggi

16 Ogoh Ogoh Tampil di Kesanga Festival 2026 Warga Denpasar Tumpah Ruah
https://www.detik.com/bali/budaya/d-8387841/16-ogoh-ogoh-tampil-di-kesanga-festival-2026-warga-denpasar-tumpah-ruah

Wali Kota Denpasar Kasanga Festival Jadi Wahana Penguatan Budaya Bali
https://www.antaranews.com/berita/4728653/wali-kota-denpasar-kasanga-festival-jadi-wahana-penguatan-budaya-bali

21 Ogoh Ogoh Finalis Siap Berlaga di Puspem Badung
https://updatebali.com/bupati-adi-arnawa-apresiasi-kreativitas-yowana-21-ogoh-ogoh-finalis-siap-berlaga-di-puspem-badung/

Malam Ini 7 Ogoh Ogoh Nominasi Badung Saka Fest 2026 Mulai Berparade
https://www.detik.com/bali/budaya/d-8387699/malam-ini-7-ogoh-ogoh-nominasi-badung-saka-fest-2026-mulai-berparade