Ketika Pantai Jepang Dipenuhi Rasa “Pulang” ala Bali

Di tengah udara dingin sekitar 15 derajat Celsius, suasana Pantai Zushi di Kanagawa, Jepang, mendadak terasa hangat oleh musik, aroma makanan khas Bali, hingga suara Kecak yang menggema di tepi laut. Hampir 1000 pengunjung hadir dalam yang digelar pada 30 April 2026 sebagai bagian dari oleh Cinema Caravan.
Festival ini bukan hanya jadi ajang pertunjukan budaya biasa. Bali Culture Day berubah menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat Jepang, pecinta budaya Bali, hingga diaspora Indonesia yang sudah lama tinggal di Jepang. Banyak yang datang bukan hanya untuk menonton, tapi untuk merasakan kembali suasana yang mengingatkan mereka pada rumah.
Sejak siang hari, area festival dipenuhi berbagai aktivitas. Salah satu yang paling ramai adalah area kuliner. Warung Mas Gede menghadirkan nasi babi kecap khas Bali yang menarik perhatian banyak pengunjung Jepang. Kehadiran restoran lokal seperti Love Saves The Day dan Amigo Tacos juga membuat suasana festival terasa santai dan terbuka untuk siapa saja. Perpaduan budaya Bali dan atmosfer pantai Jepang menciptakan pengalaman yang unik dan tidak biasa.

Tidak hanya makanan, workshop budaya juga jadi magnet tersendiri. Pengunjung diajak membuat Cili dari daun lontar secara langsung. Aktivitas sederhana ini justru menjadi salah satu titik interaksi paling menarik karena semua orang bisa ikut terlibat tanpa batas bahasa. Beberapa pengunjung bahkan terlihat mengenakan kebaya dan kamen khas Bali sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya yang mereka kenal lewat festival ini.
Menjelang sore, suasana berubah semakin hidup lewat pertunjukan musik dan tari. DJ Gero membuka suasana dengan musik santai sebelum panggung utama menghadirkan tari tradisional Bali seperti Teruna Jaya dan Saraswati oleh A.A. Gde Iswara Akihiro Mandera. Malam harinya, pertunjukan Kecak dari komunitas Banjar Bali Tokyo sukses menarik perhatian pengunjung yang memenuhi area pantai. Perpaduan suara ombak dan lantunan “cak” membuat pengalaman tersebut terasa begitu berbeda.



Di sisi lain festival, program Sinema Saling Sambung menghadirkan pemutaran film pendek karya sineas muda Bali dan mahasiswa ISI Denpasar. Film seperti Ki Ai Nirnur, Belaga, Anyang, hingga Arak diputar secara berkelanjutan di tenda teater terbuka. Pengunjung bebas keluar masuk area pemutaran, namun banyak yang akhirnya memilih bertahan lebih lama karena suasana menontonnya terasa intim dan dekat.

Puncak acara ditutup dengan pemutaran film Aruna dan Lidahnya di ruang terbuka. Di bawah langit malam Pantai Zushi, film tersebut menjadi penutup yang terasa hangat sekaligus emosional bagi banyak pengunjung.
Bali Culture Day 2026 diinisiasi oleh Blackmenu Studio Bali bersama Cinema Caravan. Melihat antusiasme pengunjung yang begitu besar, festival ini menunjukkan bahwa budaya Bali tidak hanya hidup di Pulau Dewata, tetapi juga mampu menciptakan rasa dekat di tempat yang jauh sekalipun.
Dapatkan cerita menarik tentang musik, budaya, dan perspektif global lainnya hanya di Menara FM Bali
102,8 Menara FM Bali
Jl. Gatot Subroto I No. 37, Denpasar, Bali
marketing@menara-fm.com
+62 361 410101
More Than Just a Music




