Jazz di 2026: Nggak Lagi Berat, Sekarang Malah Makin Dekat

Kalau dengar kata jazz, banyak orang masih langsung mikir musik yang ribet. Identik dengan solo saxophone panjang, improvisasi yang “susah dimengerti,” atau musik mahal yang biasa diputar di lounge hotel. Padahal di 2026, ceritanya sudah jauh berbeda. Jazz sekarang justru makin dekat dengan anak muda. Masuk playlist santai, jadi backsound video aesthetic, sampai nongol di FYP TikTok. Genre yang dulu terasa eksklusif ini sekarang pelan-pelan jadi lebih santai dan lebih mudah dinikmati.

Mungkin itu juga alasan kenapa dunia masih merayakan International Jazz Day dengan sangat besar tahun ini. Perayaan global yang diprakarsai oleh UNESCO ini sudah memasuki tahun ke-15. Setiap 30 April, lebih dari 190 negara ikut merayakan jazz sebagai simbol kebebasan, kreativitas, dan musik yang menyatukan banyak budaya. Jadi jelas, jazz bukan cuma soal musik lama. Jazz masih hidup, dan terus berkembang.

Tahun ini, Chicago dipilih jadi pusat perayaan dunia lewat All-Star Global Concert. Kota ini bakal dipenuhi nama-nama besar seperti Herbie Hancock, Jacob Collier, Marcus Miller, dan Gregory Porter. Kalau buat penikmat musik, lineup ini bisa dibilang seperti Avengers-nya jazz. Tapi bukan cuma konser besar. Chicago juga akan dipenuhi workshop, pertunjukan komunitas, dan event musik di berbagai sudut kota. Rasanya seperti satu kota penuh yang sedang pesta musik.

Yang bikin jazz tetap relevan mungkin karena genre ini nggak takut berubah. Banyak musisi baru sekarang mencampur jazz dengan genre lain dan membuatnya terdengar lebih fresh. Yussef Dayes misalnya, menggabungkan jazz dengan hip-hop dan Afrobeat. Nubya Garcia membawa nuansa soul dan spiritual jazz yang modern. Sementara Kamaal Williams membuat jazz terasa funky, elektronik, dan cocok untuk soundtrack nongkrong malam. Jazz hari ini nggak melulu klasik—kadang justru terdengar sangat kekinian.

Buat yang baru mau mulai dengar jazz, sebenarnya nggak sesulit itu. Ada beberapa album yang bisa jadi pintu masuk paling aman. Kind of Blue dari Miles Davis misalnya, punya vibe santai dan adem. A Love Supreme dari John Coltrane terasa lebih emosional dan dalam. Lalu ada Time Out yang berisi lagu legendaris “Take Five.” Kalau suka yang lebih funky, Head Hunters bisa jadi pilihan. Dan kalau mau dengar jazz modern yang cinematic, The Epic wajib masuk daftar.

Pada akhirnya, jazz sekarang bukan lagi soal “harus ngerti teori musik dulu.” Nggak harus jadi kolektor vinyl. Nggak harus pura-pura ngerti solo drum 8 menit. Kadang cukup satu lagu yang cocok sama mood, lalu masuk ke playlist harian. Mungkin itu kenapa jazz nggak pernah benar-benar mati. Dia cuma berubah cara masuk ke telinga orang.

Dapatkan cerita menarik dan lagu lagu bagus hanya di 102,8 Menara FM Bali.

Jl. Gatot Subroto I No. 37, Denpasar, Bali
www.menara-fm.com
marketing@menara-fm.com
+62 361 410101
More Than Just a Music

REFERENSI :

UNESCO — International Jazz Day 2026 Celebrate 15th Anniversary All-Star Global Concert Live in Chicago
https://www.unesco.org/en/articles/international-jazz-day-2026-celebrate-15th-anniversary-all-star-global-concert-live-chicago 

Jazzfuel — Best Jazz Albums of All Time
https://jazzfuel.com/best-jazz-albums/ 

The Blues Project — Jazz Artists Reinventing the Sound of Contemporary Jazz
https://thebluesproject.co/2020/08/22-jazz-artists-reinventing-the-sound-of-contemporary-jazz/

100 Tahun Rarud Batur: Ketika Sejarah Dihidupkan Lewat Ritual dan Visual di Ngusaba Kedasa 2026

Visual Mapping saat Ngusaba Desa Batur 2026 oleh Aga Mahesa. Video source : instagram.com/agamahesa

Di kawasan Batur, sejarah tidak hanya dikenang, tetapi terus dihidupkan. Tahun 2026 menjadi penanda satu abad Rarud Batur, peristiwa besar yang mengubah lanskap kehidupan masyarakat akibat letusan Gunung Batur pada 1926. Dari tragedi itu, lahir identitas baru yang kini dirayakan melalui Ngusaba Kedasa dengan pendekatan yang lebih luas: spiritual, edukatif, dan visual.

Rarud Batur menjadi titik balik penting bagi masyarakat Desa Batur. Letusan Gunung Batur memaksa warga meninggalkan pemukiman lama dan berpindah ke lokasi yang sekarang. Peristiwa ini bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang kemampuan beradaptasi dan menjaga nilai-nilai spiritual di tengah perubahan besar.

Satu abad kemudian, ingatan itu tetap hidup. Tidak hanya dalam cerita turun-temurun, tetapi juga dalam bentuk upacara dan simbol budaya yang terus diwariskan.

Ngusaba Kedasa yang berlangsung di Pura Ulun Danu Batur selalu menjadi momen sakral. Namun di tahun 2026, perayaan ini memiliki makna yang lebih dalam.

Rangkaian upacara dirancang sebagai refleksi perjalanan 100 tahun Rarud Batur. Elemen seperti Baris Batur, struktur upacara, hingga detail banten disusun dengan pendekatan yang merepresentasikan sejarah dan ketahanan masyarakat.

Ritual tidak hanya menjadi bentuk persembahan, tetapi juga ruang untuk memahami kembali akar budaya dan perjalanan kolektif masyarakat Batur.

Ngusaba Kedasa 2026 juga menghadirkan pameran seni sebagai bagian dari pendekatan edukatif. Dokumentasi sejarah, interpretasi visual, hingga instalasi artistik dirangkai menjadi narasi yang utuh.

Pengunjung tidak hanya melihat arsip masa lalu, tetapi diajak merasakan perjalanan Batur dari kehancuran hingga kebangkitan. Ini menjadi cara baru dalam menyampaikan sejarah agar lebih relevan dan mudah dipahami, terutama bagi generasi muda.

Salah satu elemen paling menarik adalah penggunaan mapping visual. Teknologi proyeksi digunakan untuk menghadirkan kembali kisah Rarud Batur dalam bentuk cahaya dan visual bergerak.

Pendekatan ini menciptakan pengalaman imersif yang menghubungkan tradisi dengan teknologi. Cerita sejarah tidak lagi terbatas pada teks atau lisan, tetapi hadir dalam bentuk yang lebih hidup dan emosional.

Perayaan ini menunjukkan bagaimana Bali merawat ingatan kolektifnya. Tidak hanya dengan menjaga tradisi, tetapi juga dengan mengembangkan cara penyampaian yang lebih kontekstual.

Rarud Batur kini tidak hanya dikenang sebagai bencana, tetapi sebagai simbol ketahanan, harmoni dengan alam, dan kekuatan budaya. Dari ritual hingga visual mapping, semuanya menjadi bagian dari narasi besar tentang bagaimana Bali terus bergerak tanpa kehilangan akar.

Ngusaba Kedasa 2026 bukan sekadar perayaan, tapi pengalaman budaya yang jarang terjadi. Dari sejarah Rarud Batur, ritual sakral, hingga visual mapping yang imersif, semuanya hadir dalam satu momen.

Kalau kamu ingin melihat Bali dari sisi yang lebih dalam, ini waktunya.

Dapatkan cerita di balik musik global, rilisan terbaru, dan perspektif yang lebih dekat dengan pendengar hanya di 102,8 Menara FM Bali
Jl. Gatot Subroto I No 37 Denpasar Bali
www.menara-fm.com

marketing@menara-fm.com
+62 361 410101
More Than Just a Music

Referensi

https://batur2026.com/
https://www.denpost.id/bali/105516954633/100-tahun-rarud-batur-ngusaba-kadasa-2026-jadi-ruang-edukasi
https://balitv.tv/ngusaba-kedasa-2026-di-batur-peringati-100-tahun-rarud-batur/

Jangan Nekat ke Bali Saat Nyepi Kalau Belum Tahu Ini! Dari Ogoh-Ogoh yang Bising Sampai Pulau Mendadak Sunyi Total

Image by aronvisuals via Pixabay

Menjelang Hari Raya Nyepi, Bali menghadirkan pengalaman yang tidak bisa ditemukan di tempat lain di dunia.

Dalam satu rangkaian waktu, pulau ini berubah dari penuh suara, musik, dan energi—menjadi hening total tanpa aktivitas selama 24 jam.

Fenomena ini bahkan terlihat dari luar angkasa, ketika Bali mendadak gelap saat Nyepi berlangsung. Tahun 2026 menjadi semakin unik karena berdekatan dengan Idul Fitri, menghadirkan momen keberagaman budaya yang kuat di Indonesia.

Rangkaian Upacara Nyepi: Dari Sakral hingga Spektakuler

Melasti: Penyucian ke Laut

Rangkaian dimulai dengan Melasti, di mana umat Hindu membawa simbol suci ke laut untuk disucikan.

Pantai seperti Pantai Sanur dan Pantai Kuta menjadi pusat prosesi yang sarat makna spiritual.

Tawur Kesanga: Menyeimbangkan Energi Alam

Sehari sebelum Nyepi, digelar Tawur Kesanga.

Upacara ini bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan energi tak kasat mata agar tercipta harmoni.

Pengerupukan: Malam Paling Bising di Bali

Malam Pengerupukan menjadi puncak kemeriahan.

Ogoh-ogoh diarak keliling desa dengan iringan musik tradisional seperti baleganjur, menciptakan suasana penuh energi, ritme, dan “kekacauan” yang disengaja.

Namun di balik itu, ada makna mendalam: suara keras dipercaya sebagai cara untuk mengusir energi negatif sebelum memasuki tahun baru Saka.

Parade ogoh-ogoh menjadi salah satu momen paling dinanti oleh masyarakat maupun wisatawan saat menjelang Nyepi. Di Catur Muka Denpasar, suasana terasa paling meriah karena menjadi pusat keramaian di jantung kota. Sementara itu, kawasan Tegalalang dikenal dengan karakter ogoh-ogoh yang unik dan khas, mencerminkan kreativitas lokal yang kuat.

Di Ubud, parade menghadirkan nuansa seni dan filosofi yang lebih mendalam, cocok bagi yang ingin merasakan sisi budaya Bali yang lebih kental. Sedangkan di kawasan wisata seperti Nusa Dua, Kuta, dan Seminyak, parade ogoh-ogoh tetap meriah dengan akses yang lebih mudah dan suasana yang ramah bagi wisatawan.

Musik & Nyepi: Dari “Ledakan Bunyi” ke Keheningan Total

Hubungan Nyepi dengan musik sangat unik. Di satu sisi, musik menjadi bagian penting dalam rangkaian ritual, terutama saat pengarakan ogoh-ogoh yang diiringi gamelan baleganjur. Ritme yang cepat dan keras bukan sekadar hiburan, tetapi berfungsi membangun suasana kolektif sekaligus menjadi simbol pembersihan spiritual dari energi negatif.

Namun di sisi lain, saat Hari Raya Nyepi tiba, semuanya berhenti total. Tidak ada musik, tidak ada hiburan, dan tidak ada suara keramaian. Keheningan ini menjadi inti dari perayaan Nyepi, sebagai ruang refleksi dan penyucian diri.

Bagi banyak peneliti budaya, ini disebut sebagai “reset akustik”, di mana manusia kembali mendengar suara alam dan dirinya sendiri.

Nyepi: Saat Bali “Menghilang” dari Dunia

Saat Hari Raya Nyepi berlangsung, seluruh aktivitas di Bali dihentikan secara total. Masyarakat menjalankan Catur Brata Penyepian yang meliputi tidak menyalakan api atau cahaya (Amati Geni), tidak bekerja (Amati Karya), tidak bepergian (Amati Lelungan), serta tidak menikmati hiburan (Amati Lelanguan).

Dalam suasana tersebut, bandara ditutup, jalanan menjadi kosong, dan lampu-lampu dipadamkan. Kondisi ini menjadikan Bali sebagai salah satu tempat paling sunyi di dunia, bahkan hingga tampak gelap dari citra satelit.

Tradisi, Musik, dan Generasi Muda

Di balik ogoh-ogoh, terdapat kerja kolektif generasi muda Bali yang menggabungkan seni, musik, dan nilai budaya.

Musik tradisional seperti gamelan tidak hanya menjadi pengiring, tetapi juga identitas budaya yang terus dijaga di tengah modernisasi.

Dari kebisingan ritual hingga keheningan Nyepi, semuanya menjadi satu siklus yang menunjukkan keseimbangan hidup.

Temukan cerita menarik tentang budaya, musik global, dan perspektif unik lainnya hanya di:

102,8 Menara FM Bali
More Than Just a Music

Jl. Gatot Subroto I No. 37, Denpasar, Bali
www.menara-fm.com
marketing@menara-fm.com

Referensi

Trip.com – Panduan Nyepi Bali
https://id.trip.com/blog/nyepi-bali/

FMIPA UNESA – Nyepi 2026 & Fenomena Pulau Gelap
https://s3pendsains.fmipa.unesa.ac.id/post/nyepi-2026-berdekatan-dengan-idul-fitri-makna-tradisi-ogoh-ogoh-wisata-bali-saat-nyepi-dan-fenomena-pulau-gelap-dari-satelit-serta-kaitannya-sdgs

Kumparan – Hari Raya Nyepi 2026 Tahun Baru Saka
https://kumparan.com/kabar-harian/hari-raya-nyepi-2026-tahun-baru-saka-berapa-ini-penjelasannya-270ovl2Kh0o

Ribuan Warga Padati Kasanga Festival 2026 di Catur Muka Denpasar

Peserta Kesanga Festival 2026, ST. YOSA Br. Abiantimbul Denpasar. Photo by Visaka Photo © 2026

Menjelang Hari Raya Nyepi, pusat Kota Denpasar kembali dipenuhi energi budaya. Kawasan Patung Catur Muka Denpasar dan Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung menjadi titik utama berlangsungnya Kasanga Festival yang digelar pada 6 hingga 8 Maret 2026. 

Festival tahunan ini menghadirkan parade 16 ogoh ogoh terbaik dari sekaa teruna teruni se Kota Denpasar yang sebelumnya lolos seleksi tingkat kecamatan. Ribuan warga memadati area festival untuk menyaksikan parade yang menjadi salah satu agenda budaya paling ditunggu menjelang Nyepi. 

Suasana festival juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Beberapa turis bahkan terlihat merekam jalannya parade dan mengaku kagum dengan detail serta skala karya ogoh ogoh yang ditampilkan. 

Dalam parade Kasanga Festival, setiap banjar menampilkan konsep berbeda melalui ogoh ogoh yang mereka bawa. Pertunjukan biasanya diawali dengan tarian yang diiringi gamelan, kemudian dilanjutkan dengan pengarakan ogoh ogoh sepanjang rute parade. 

Format festival tahun ini juga dibuat seperti karnaval budaya. Peserta bergerak dari titik awal parade hingga garis akhir, sementara dewan juri menilai penampilan mereka di beberapa pos sepanjang jalur pawai. 

Peserta Kesanga Festival 2026, ST. Cantika Br. Sedana Mertha Denpasar. Photo by Visaka Photo © 2026

Selain parade ogoh ogoh, festival juga diisi berbagai kegiatan lain seperti lomba baleganjur, pameran ogoh ogoh mini, lomba sketsa, hingga stan kuliner tradisional yang melibatkan komunitas pemuda Denpasar. 

Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menilai Kasanga Festival menjadi salah satu ruang penting untuk memperkuat budaya Bali melalui kreativitas generasi muda.

Festival ini memberi kesempatan bagi sekaa teruna untuk terus berkarya sekaligus menjaga tradisi menjelang Hari Raya Nyepi agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman. 

Melalui festival ini, pemerintah kota juga memberikan dukungan kepada komunitas pemuda yang selama ini menjadi penggerak utama pembuatan ogoh ogoh di setiap banjar.

Atmosfer serupa juga terasa di Kabupaten Badung. Kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung menjadi lokasi parade finalis Badung Saka Festival yang menampilkan ogoh ogoh terbaik dari berbagai kecamatan.

Dalam ajang ini terdapat 21 ogoh ogoh finalis yang sebelumnya telah melalui proses seleksi tingkat kecamatan. Kreativitas para yowana mendapat apresiasi dari Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, yang menilai karya ogoh ogoh menjadi bukti kuatnya semangat budaya di kalangan generasi muda.

Pada malam parade utama, beberapa ogoh ogoh nominasi terbaik diarak di kawasan Puspem Badung dan menjadi tontonan masyarakat yang datang dari berbagai wilayah.

Festival ogoh ogoh seperti yang berlangsung di Denpasar dan Badung menunjukkan bagaimana tradisi Bali terus berkembang. Di balik patung raksasa yang diarak di jalanan, terdapat kerja kolektif satu banjar yang menggabungkan seni, cerita, dan identitas budaya.

Setiap tahun, generasi muda Bali tidak hanya menjaga tradisi ini tetap hidup, tetapi juga mendorongnya menjadi ruang kreativitas yang semakin dinamis menjelang Nyepi.

Dapatkan cerita di balik sejarah budaya musik global, rilisan terbaru, dan perspektif yang lebih dekat dengan pendengar hanya di 102,8 Menara FM Bali.

Jl. Gatot Subroto I No. 37, Denpasar, Bali
www.menara-fm.com
marketing@menara-fm.com

102,8 Menara FM Bali
More Than Just a Music

Referensi

Kasanga Festival 2026 Turis Asing Kagum Hingga Wujud Ogoh Ogoh Skor Tertinggi
https://www.detik.com/bali/budaya/d-8388097/kasanga-festival-2026-turis-asing-kagum-hingga-wujud-ogoh-ogoh-skor-tertinggi

16 Ogoh Ogoh Tampil di Kesanga Festival 2026 Warga Denpasar Tumpah Ruah
https://www.detik.com/bali/budaya/d-8387841/16-ogoh-ogoh-tampil-di-kesanga-festival-2026-warga-denpasar-tumpah-ruah

Wali Kota Denpasar Kasanga Festival Jadi Wahana Penguatan Budaya Bali
https://www.antaranews.com/berita/4728653/wali-kota-denpasar-kasanga-festival-jadi-wahana-penguatan-budaya-bali

21 Ogoh Ogoh Finalis Siap Berlaga di Puspem Badung
https://updatebali.com/bupati-adi-arnawa-apresiasi-kreativitas-yowana-21-ogoh-ogoh-finalis-siap-berlaga-di-puspem-badung/

Malam Ini 7 Ogoh Ogoh Nominasi Badung Saka Fest 2026 Mulai Berparade
https://www.detik.com/bali/budaya/d-8387699/malam-ini-7-ogoh-ogoh-nominasi-badung-saka-fest-2026-mulai-berparade