100 Tahun Rarud Batur: Ketika Sejarah Dihidupkan Lewat Ritual dan Visual di Ngusaba Kedasa 2026

Visual Mapping saat Ngusaba Desa Batur 2026 oleh Aga Mahesa. Video source : instagram.com/agamahesa

Di kawasan Batur, sejarah tidak hanya dikenang, tetapi terus dihidupkan. Tahun 2026 menjadi penanda satu abad Rarud Batur, peristiwa besar yang mengubah lanskap kehidupan masyarakat akibat letusan Gunung Batur pada 1926. Dari tragedi itu, lahir identitas baru yang kini dirayakan melalui Ngusaba Kedasa dengan pendekatan yang lebih luas: spiritual, edukatif, dan visual.

Rarud Batur menjadi titik balik penting bagi masyarakat Desa Batur. Letusan Gunung Batur memaksa warga meninggalkan pemukiman lama dan berpindah ke lokasi yang sekarang. Peristiwa ini bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang kemampuan beradaptasi dan menjaga nilai-nilai spiritual di tengah perubahan besar.

Satu abad kemudian, ingatan itu tetap hidup. Tidak hanya dalam cerita turun-temurun, tetapi juga dalam bentuk upacara dan simbol budaya yang terus diwariskan.

Ngusaba Kedasa yang berlangsung di Pura Ulun Danu Batur selalu menjadi momen sakral. Namun di tahun 2026, perayaan ini memiliki makna yang lebih dalam.

Rangkaian upacara dirancang sebagai refleksi perjalanan 100 tahun Rarud Batur. Elemen seperti Baris Batur, struktur upacara, hingga detail banten disusun dengan pendekatan yang merepresentasikan sejarah dan ketahanan masyarakat.

Ritual tidak hanya menjadi bentuk persembahan, tetapi juga ruang untuk memahami kembali akar budaya dan perjalanan kolektif masyarakat Batur.

Ngusaba Kedasa 2026 juga menghadirkan pameran seni sebagai bagian dari pendekatan edukatif. Dokumentasi sejarah, interpretasi visual, hingga instalasi artistik dirangkai menjadi narasi yang utuh.

Pengunjung tidak hanya melihat arsip masa lalu, tetapi diajak merasakan perjalanan Batur dari kehancuran hingga kebangkitan. Ini menjadi cara baru dalam menyampaikan sejarah agar lebih relevan dan mudah dipahami, terutama bagi generasi muda.

Salah satu elemen paling menarik adalah penggunaan mapping visual. Teknologi proyeksi digunakan untuk menghadirkan kembali kisah Rarud Batur dalam bentuk cahaya dan visual bergerak.

Pendekatan ini menciptakan pengalaman imersif yang menghubungkan tradisi dengan teknologi. Cerita sejarah tidak lagi terbatas pada teks atau lisan, tetapi hadir dalam bentuk yang lebih hidup dan emosional.

Perayaan ini menunjukkan bagaimana Bali merawat ingatan kolektifnya. Tidak hanya dengan menjaga tradisi, tetapi juga dengan mengembangkan cara penyampaian yang lebih kontekstual.

Rarud Batur kini tidak hanya dikenang sebagai bencana, tetapi sebagai simbol ketahanan, harmoni dengan alam, dan kekuatan budaya. Dari ritual hingga visual mapping, semuanya menjadi bagian dari narasi besar tentang bagaimana Bali terus bergerak tanpa kehilangan akar.

Ngusaba Kedasa 2026 bukan sekadar perayaan, tapi pengalaman budaya yang jarang terjadi. Dari sejarah Rarud Batur, ritual sakral, hingga visual mapping yang imersif, semuanya hadir dalam satu momen.

Kalau kamu ingin melihat Bali dari sisi yang lebih dalam, ini waktunya.

Dapatkan cerita di balik musik global, rilisan terbaru, dan perspektif yang lebih dekat dengan pendengar hanya di 102,8 Menara FM Bali
Jl. Gatot Subroto I No 37 Denpasar Bali
www.menara-fm.com

marketing@menara-fm.com
+62 361 410101
More Than Just a Music

Referensi

https://batur2026.com/
https://www.denpost.id/bali/105516954633/100-tahun-rarud-batur-ngusaba-kadasa-2026-jadi-ruang-edukasi
https://balitv.tv/ngusaba-kedasa-2026-di-batur-peringati-100-tahun-rarud-batur/

Filla: Band Tunanetra dari Bali yang Membakar Semangat Lewat “I’m A Fire”

Filla source IG @thisisfilla

Musik tidak selalu tentang apa yang terlihat. Bagi sebagian orang, justru dari keterbatasan visual, lahir cara baru dalam merasakan, memahami, dan menciptakan bunyi. Di tengah berkembangnya industri musik independen di Indonesia, muncul cerita yang tidak hanya soal karya, tetapi juga tentang ketahanan dan identitas.

Di Bali, semangat itu hadir melalui Filla, sebuah unit rock yang seluruh personelnya merupakan penyandang tunanetra. Kehadiran mereka bukan sekadar warna baru di skena musik lokal, tetapi juga representasi dari bagaimana musik bisa menjadi ruang yang inklusif.

Namun, perjalanan Filla tidak dimulai dari panggung besar atau rilisan digital. Ia berakar dari proses yang jauh lebih personal.

Filla tumbuh dari lingkungan komunitas dan pendidikan tunanetra di Bali, di mana musik menjadi bagian penting dalam keseharian. Bagi para personelnya, musik bukan hanya hiburan, tetapi juga alat untuk belajar, berkomunikasi, dan membangun kepercayaan diri.

Dalam prosesnya, mereka mengandalkan pendengaran sebagai kekuatan utama. Tanpa referensi visual, setiap nada, ritme, dan dinamika dimainkan dengan sensitivitas yang lebih dalam. Latihan demi latihan tidak hanya membentuk kemampuan teknis, tetapi juga membangun koneksi yang kuat antar anggota band.

Tantangan tentu ada. Akses terhadap alat, ruang latihan, hingga kesempatan tampil tidak selalu mudah didapat. Namun justru dari keterbatasan itu, karakter Filla terbentuk. Musik mereka terasa jujur, emosional, dan tidak dibuat-buat.

Seiring waktu, mereka mulai menciptakan karya sendiri dan memperkenalkan identitasnya sebagai band rock dengan perspektif yang berbeda.

Langkah besar Filla semakin terasa ketika mereka merilis single berjudul I’m A Fire.

Lagu ini menjadi semacam pernyataan diri. Dengan balutan musik rock yang kuat, “I’m A Fire” membawa pesan tentang keberanian untuk tetap menyala di tengah keterbatasan. Liriknya berbicara tentang kekuatan internal—tentang bagaimana seseorang tidak harus menunggu pengakuan untuk merasa bernilai.

Secara musikal, lagu ini menghadirkan energi yang intens. Vokal yang lantang berpadu dengan instrumen yang dinamis menciptakan atmosfer yang penuh dorongan. Tidak ada kesan ragu. Yang terasa justru keyakinan.

Menariknya, pesan dalam lagu ini tidak eksklusif untuk pengalaman penyandang disabilitas. Ia bersifat universal. Siapa pun yang pernah merasa diremehkan, dibatasi, atau diragukan, bisa menemukan dirinya di dalam lagu ini.

“I’m A Fire” bukan hanya lagu. Ia adalah simbol bahwa api itu selalu ada, bahkan ketika dunia tidak melihatnya.

Sejak perilisan “I’m A Fire”, langkah Filla mulai mendapat perhatian yang lebih luas. Mereka tidak hanya hadir sebagai band independen dari Bali, tetapi juga sebagai suara dari komunitas yang selama ini jarang mendapatkan sorotan di industri musik.

Kehadiran Filla membuka percakapan tentang aksesibilitas dan inklusivitas. Bahwa panggung musik seharusnya tidak dibatasi oleh kondisi fisik, melainkan terbuka bagi siapa saja yang memiliki sesuatu untuk disampaikan.

Di sisi lain, mereka juga menunjukkan bahwa kualitas karya tetap menjadi fondasi utama. Identitas sebagai band tunanetra bukanlah gimmick, melainkan bagian dari perjalanan yang membentuk karakter musik mereka.

Hari ini, Filla berdiri bukan hanya sebagai band, tetapi sebagai pengingat bahwa musik selalu menemukan jalannya. Bahwa dalam setiap keterbatasan, selalu ada kemungkinan untuk tumbuh, bersuara, dan didengar.

Pada akhirnya, cerita Filla bukan hanya tentang siapa mereka, tetapi tentang apa yang mereka wakili: keberanian untuk tetap menyala.

Dapatkan cerita di balik musik, rilisan terbaru, dan perspektif yang lebih dekat dengan pendengar hanya di 102,8 Menara FM Bali.


Jl. Gatot Subroto I No. 37, Denpasar, Bali
www.menara-fm.com
marketing@menara-fm.com
+62 361 410101
More Than Just a Music

Referensi

Tatkala. Berkenalan dengan Filla: Unit Rock Tunanetra Asal Bali dan Cerita di Balik Keidela. 2025.
https://tatkala.co/2025/01/19/berkenalan-dengan-filla-unit-rock-tunanetra-asal-bali-dan-cerita-di-balik-keidela/

Noisenesia. Filla Bali Rilis Single “I’m A Fire”.
https://noisenesia.web.id/filla-bali-rilis-single-im-a-fire/

Jangan Nekat ke Bali Saat Nyepi Kalau Belum Tahu Ini! Dari Ogoh-Ogoh yang Bising Sampai Pulau Mendadak Sunyi Total

Image by aronvisuals via Pixabay

Menjelang Hari Raya Nyepi, Bali menghadirkan pengalaman yang tidak bisa ditemukan di tempat lain di dunia.

Dalam satu rangkaian waktu, pulau ini berubah dari penuh suara, musik, dan energi—menjadi hening total tanpa aktivitas selama 24 jam.

Fenomena ini bahkan terlihat dari luar angkasa, ketika Bali mendadak gelap saat Nyepi berlangsung. Tahun 2026 menjadi semakin unik karena berdekatan dengan Idul Fitri, menghadirkan momen keberagaman budaya yang kuat di Indonesia.

Rangkaian Upacara Nyepi: Dari Sakral hingga Spektakuler

Melasti: Penyucian ke Laut

Rangkaian dimulai dengan Melasti, di mana umat Hindu membawa simbol suci ke laut untuk disucikan.

Pantai seperti Pantai Sanur dan Pantai Kuta menjadi pusat prosesi yang sarat makna spiritual.

Tawur Kesanga: Menyeimbangkan Energi Alam

Sehari sebelum Nyepi, digelar Tawur Kesanga.

Upacara ini bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan energi tak kasat mata agar tercipta harmoni.

Pengerupukan: Malam Paling Bising di Bali

Malam Pengerupukan menjadi puncak kemeriahan.

Ogoh-ogoh diarak keliling desa dengan iringan musik tradisional seperti baleganjur, menciptakan suasana penuh energi, ritme, dan “kekacauan” yang disengaja.

Namun di balik itu, ada makna mendalam: suara keras dipercaya sebagai cara untuk mengusir energi negatif sebelum memasuki tahun baru Saka.

Parade ogoh-ogoh menjadi salah satu momen paling dinanti oleh masyarakat maupun wisatawan saat menjelang Nyepi. Di Catur Muka Denpasar, suasana terasa paling meriah karena menjadi pusat keramaian di jantung kota. Sementara itu, kawasan Tegalalang dikenal dengan karakter ogoh-ogoh yang unik dan khas, mencerminkan kreativitas lokal yang kuat.

Di Ubud, parade menghadirkan nuansa seni dan filosofi yang lebih mendalam, cocok bagi yang ingin merasakan sisi budaya Bali yang lebih kental. Sedangkan di kawasan wisata seperti Nusa Dua, Kuta, dan Seminyak, parade ogoh-ogoh tetap meriah dengan akses yang lebih mudah dan suasana yang ramah bagi wisatawan.

Musik & Nyepi: Dari “Ledakan Bunyi” ke Keheningan Total

Hubungan Nyepi dengan musik sangat unik. Di satu sisi, musik menjadi bagian penting dalam rangkaian ritual, terutama saat pengarakan ogoh-ogoh yang diiringi gamelan baleganjur. Ritme yang cepat dan keras bukan sekadar hiburan, tetapi berfungsi membangun suasana kolektif sekaligus menjadi simbol pembersihan spiritual dari energi negatif.

Namun di sisi lain, saat Hari Raya Nyepi tiba, semuanya berhenti total. Tidak ada musik, tidak ada hiburan, dan tidak ada suara keramaian. Keheningan ini menjadi inti dari perayaan Nyepi, sebagai ruang refleksi dan penyucian diri.

Bagi banyak peneliti budaya, ini disebut sebagai “reset akustik”, di mana manusia kembali mendengar suara alam dan dirinya sendiri.

Nyepi: Saat Bali “Menghilang” dari Dunia

Saat Hari Raya Nyepi berlangsung, seluruh aktivitas di Bali dihentikan secara total. Masyarakat menjalankan Catur Brata Penyepian yang meliputi tidak menyalakan api atau cahaya (Amati Geni), tidak bekerja (Amati Karya), tidak bepergian (Amati Lelungan), serta tidak menikmati hiburan (Amati Lelanguan).

Dalam suasana tersebut, bandara ditutup, jalanan menjadi kosong, dan lampu-lampu dipadamkan. Kondisi ini menjadikan Bali sebagai salah satu tempat paling sunyi di dunia, bahkan hingga tampak gelap dari citra satelit.

Tradisi, Musik, dan Generasi Muda

Di balik ogoh-ogoh, terdapat kerja kolektif generasi muda Bali yang menggabungkan seni, musik, dan nilai budaya.

Musik tradisional seperti gamelan tidak hanya menjadi pengiring, tetapi juga identitas budaya yang terus dijaga di tengah modernisasi.

Dari kebisingan ritual hingga keheningan Nyepi, semuanya menjadi satu siklus yang menunjukkan keseimbangan hidup.

Temukan cerita menarik tentang budaya, musik global, dan perspektif unik lainnya hanya di:

102,8 Menara FM Bali
More Than Just a Music

Jl. Gatot Subroto I No. 37, Denpasar, Bali
www.menara-fm.com
marketing@menara-fm.com

Referensi

Trip.com – Panduan Nyepi Bali
https://id.trip.com/blog/nyepi-bali/

FMIPA UNESA – Nyepi 2026 & Fenomena Pulau Gelap
https://s3pendsains.fmipa.unesa.ac.id/post/nyepi-2026-berdekatan-dengan-idul-fitri-makna-tradisi-ogoh-ogoh-wisata-bali-saat-nyepi-dan-fenomena-pulau-gelap-dari-satelit-serta-kaitannya-sdgs

Kumparan – Hari Raya Nyepi 2026 Tahun Baru Saka
https://kumparan.com/kabar-harian/hari-raya-nyepi-2026-tahun-baru-saka-berapa-ini-penjelasannya-270ovl2Kh0o

Kenapa Lagu “work” no na Ramai Dibicarakan? Ini Makna dan Unsur Tradisinya

Potrait no na dalam music video “work” . doc Instagram @nonawav

Single “work” dari grup vokal perempuan Indonesia no na menjadi salah satu rilisan yang ramai dibicarakan sejak dirilis pada Januari 2026. Lagu ini menarik perhatian bukan hanya karena energinya yang kuat dan ritme dance-pop modern, tetapi juga karena makna liriknya yang relevan serta unsur tradisi Indonesia yang disisipkan secara halus di dalam aransemen.

Perpaduan antara pesan, musik, dan identitas budaya inilah yang membuat “work” terasa berbeda dibanding banyak rilisan pop lainnya.

Makna Lagu “work”: Tentang Kerja dan Konsistensi

Secara lirik, “work” berbicara tentang etos kerja, disiplin, dan konsistensi dalam menjalani proses. Lagu ini tidak menarasikan kesuksesan instan, melainkan menggambarkan sikap mental untuk tetap hadir, terus bergerak, dan tidak mudah berhenti meski hasil belum langsung terlihat.

Pesan tersebut terasa dekat dengan realitas generasi muda saat ini yang hidup di tengah tuntutan produktivitas, tekanan sosial, dan ekspektasi untuk terus berkembang. Lirik “work” hadir lugas dan berulang, menciptakan kesan afirmatif yang menegaskan bahwa kerja keras adalah bagian penting dari perjalanan.

Lirik Repetitif yang Justru Menguatkan Pesan

Salah satu ciri khas lagu ini adalah struktur liriknya yang repetitif. Alih-alih terasa monoton, pengulangan tersebut justru memperkuat pesan utama lagu. Kata “work” menjadi penekanan yang terus diulang, seolah menjadi pengingat untuk tetap fokus dan disiplin.

Pendekatan ini membuat lagu mudah diingat dan efektif sebagai mood booster, baik saat beraktivitas sehari-hari maupun sebagai lagu performatif di panggung.

Unsur Tradisi: Hadirnya Ceng-ceng Bali

Hal lain yang membuat “work” banyak dibicarakan adalah kehadiran alat musik tradisional Bali, ceng-ceng, dalam aransemen lagu. Instrumen ini memberi aksen ritmis yang khas dan menambah lapisan tekstur tanpa menghilangkan karakter pop modern.

Penggunaan ceng-ceng menunjukkan upaya no na untuk tetap membawa identitas budaya Indonesia ke dalam karya yang ditujukan untuk audiens global. Tradisi tidak ditempatkan sebagai ornamen semata, tetapi menjadi bagian dari dinamika musik itu sendiri.

Identitas no na yang Semakin Tegas

Lewat “work”, no na memperlihatkan perkembangan identitas musikal yang semakin matang. Lagu ini menegaskan bahwa mereka tidak hanya mengejar estetika pop global, tetapi juga memperhatikan pesan, performa, dan akar budaya.

Kombinasi energi tinggi, lirik yang relevan, serta sentuhan tradisi menjadikan “work” sebagai penanda fase baru perjalanan no na di industri musik yakni lebih berani, lebih sadar identitas, dan lebih siap melangkah jauh.


Dapatkan informasi rilisan musik terbaru, cerita di balik lagu, dan rekomendasi musik pilihan lainnya hanya di www.menara-fm.com
Jl Gatot Subroto 1 No 37 Denpasar, Bali

+62361-410101

marketing@menara-fm.com

More Than Just a Music

Referensi: